Cerpen : Kita Berbeda


Aku keluar kelas sambil tertawa bersama teman-temanku ketika kulihat samuel sedang berdiri didepan pintu "Marwah, tadi aku sms kamu lho waktu ulangan" ujarnya menatapku sambil menahan tawa. "hah, sms apa??" ujarku terkejut. "minta jawaban agama" dia memasang tampang serius. "hah, apa??" kali ini aku yang memasang tampang pura-pura terkejut. Dia tertawa sampai mata sipitnya terlihat semakin tenggelam bersama kedua pipi putihnya yang terlihat memerah. lalu berlalu pergi. Aku hanya bisa tersenyum sambil bergumam "jayus! jelas bedalah" aku meninggalkan kelas dengan pikiran tak menentu.

***

Sinar matahari menembus sisi-sisi jendela, membuatku mengangkat komik yang sedang ku baca sambil bersantai mencondongkan punggung di bangku yang sedang ku duduki, kejenuhan merasuki hatiku. Dari sekilas yang ku lihat, samuel berjalan mendekatiku lalu langsung duduk didepan bangku kosong didepanku. "Kamu suka baca komik?" aku melihat sekilas kearah samuel yang mengajakku bicara sambil tersenyum. "Ya, aku suka baca semuanya kecuali pelajaran pastinya, sam" aku mencoba tertawa memecahkan kesan kikuk diantara kami sembari mempermainkan ujung kerudung putihku. "Oh, haha iya..kamu suka novel tebel-tebel ga? kalau novel harry potter?" selidiknya sekali lagi. Aku menurunkan komik yang kubaca sambil menatap wajahnya, ada kesan curiga dipikiranku ketika melihatnya menatapku seperti itu. aku menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri. "Hmm..nggak deh.. mending nonton filmnya aja biar cepet! Apaan sih tanya-tanya gak penting deh" ujarku masih dengan tersenyum. Dia hanya tertawa kecil."Iya iya, nanya aja gak boleh masak! eh tugas kesenianmu bagus gitu mar" dia meraih lembaran gambarku yang masih ku simpan di map. "Ah nggak, aku gak bisa..itu aja baru aku buat" ujarku sekenanya. "oh bagus kok" pujinya. ""haha nggak, jelek tuh" aku tertawa. "yaudah ya jelek! puas! hahaha, yaudah deh.. capek dah debat sama kamu mar" ujarnya sambil meninggalkanku. aku kembali menghela nafas, menerawang kedepan. Membayangkan apa yang sedang ku alami sekarang. Sekali lagi ku tepis pikiran buruk yang membayang-bayang dihatiku. Entah mengapa akhir-akhir ini kesan -sedikit- kaku menghinggapi kami berdua. Aku menghela nafas panjang.
Kembali kulanjutkan membaca komik dengan serius, tak bisa. Pikiranku telah kemana-mana. Ku toleh ami, teman sebangkuku, yang sedang sibuk mengarsir warnanya di lembaran gambarnya. Terlihat indah. Tanpa berkata aku hanya melihat guratan-guratan pensil warnanya yang asyik menari-nari dilembaran itu.
Jenuh. Kembali aku menekuni komikku. Bosan kembali merasuk pikiran. Ku edarkan pandangan ke penjuru kelas, terlihat setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tenggelam di dalam dunianya sendiri.
Ku rebahkan kepalaku di atas meja, berharap aku kan dapat tertidur saat itu juga untuk mengusir jenuh. Nihil, yang ada aku hanya memainkan handphoneku dengan malas. Drrrt…drrrrtt….. tiba-tiba handphoneku bergetar. One messages received from samuel. Keningku berkerut, untuk apa dia sms padahal kita ada di dalam ruangan yang sama? ku buka sms itu dengan heran. Itu hanya pesan lelucon yang sebenarnya tak lucu. Aku mencoba menahan tawa. Ku dongakkan kepalaku untuk mencarinya dipenjuru kelas. Ku lihat sosoknya sedang melakukan hal yang sama denganku lalu buru-buru merebahkan kepalanya di mejanya. Aku hanya tersenyum. geli melihatnya. “sam…sam… gak jelas banget sih” 

***

Semua anak terlihat telah keluar dari kelas untuk pulang, tapi aku bersama teman kelompok praktikumku sedang sibuk menyelesaikan laporan yang akan diserahkan besok sampai tidak menyadari samuel telah ada disamping bangkuku. Dia sepertinya mengatakan sesuatu yang jelas tidak aku dengar, jadi aku hanya bisa memberikan sekilas senyumku sambil terus memperhatikan penjelasan tentang laporan itu. Tiba-tiba dia menarik ujung jilbabku, dengan terkejut aku berteriak panik. Dia hanya tertawa sambil kembali merapikan jilbabku, aku hanya refleks meninju bahunya, gemas dengan perbuatannya yang selalu tiba-tiba itu. Samuel lalu berlalu pergi meninggalkan kelas yang sempat kudengar bisiknya yang berkata menungguku di parkiran dan akan mengantarku pulang hari ini . Aku hanya terlongo-longo kaget. Kalau dia yang biasanya menungguku selepas pulang sekolah sudah biasa, nah ini… dia akan mengantarku pulang, itu yang tidak biasa. Ku lihat sosoknya menghilang dibalik pintu. Masih terngiang di telingaku pendapat orang-orang terdekatku tentang dia
“udah keliatan itu kalau dia suka kamu” “wah  apa kubilang kan? Dari awal aku udah curiga”
kembali ku tepis pikiran-pikiran anehku, mencoba berpikir bahwa itu merupakan salah satu bentuk perhatiannya kepada teman.
Masih dalam pikirku, mencoba menalar apakah sesuatu yang dari awal sudah tidak sama bisa berjalan? Sesuatu yang terlarang yang tak pernah boleh terjadi? Perbedaan nyata yang jelas-jelas tidak diperbolehkan? Mengapa kita tidak sejalan? Bukankah kita masih percaya akan Tuhan? Tapi mengapa berbeda?
Aku menyeringai lebar, tak pernah aku berpikir sampai sejauh itu. Ketidakpedulianku tidak mengijinkan hatiku untuk mengetahuinya apalagi mengerti, tidak pernah dan aku benar-benar tidak peduli, ku anggap ini hanya ujian yang sedang kulalui saja. Yeaaah.. terkadang aku berpikir “betapa jahatnya aku” tapi itu memang harus kulakukan untuk tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Kembali aku memperhatikan penjelasan-penjelasan bersama temanku masih dengan pikiran tak menentu

***

Aku berjalan melewati koridor kelas bersama ami ketika ku lihat samuel berdiri di depan salah satu ruangan diujung koridor. “Mar, sam tuh” ujar ami sambil menyenggol lenganku. “Ssst, udah tau! Aku harus gimana nih” ujarku gugup. “Tenang..tenang..hadepi dengan tenang! Ingat mar, kamu berjilbab, apa kata orang kalau kamu sampai ada komitmen sama ya tahu sendirilah….doaku selalu menyertaimu! Good luck ya, aku harus duluan nih! Ada rapat osis hari ini” ujarnya sambil melambai dan berlari menjauhiku. Ku lihat dia sempat mengedipkan sebelah matanya usil kepadaku sambil mengarah ke samuel “Dasar si ami, ceramah-ceramah! Tetap godain juga” runtukku kesal. Terlihat ami sempat menyapa sam ketika melewatinya, lalu menghilang setelah berbelok di ujung sana. Langkahku semakin mendekat. Samuel tersenyum tipis kepadaku. “Hai, marwah” ujarnya kikuk. “Lho ngapain disini, katanya di parkiran?” tanyaku sembari menenangkan diri. “”gak apa-apa” ujarnya singkat. Lalu terjadi keheningan panjang diantara kami. Aku terlihat -sok- sibuk mempermainkan ujung kerudungku, menunduk dengan gelisah. Aku yang sedari tadi berusaha tidak menatap matanya langsung, sedikit memberanikan diri melirik kearahnya.
Ya, Samuel … Samuel Abimanyu…. seseorang yang ku kenal sejak duduk dikelas 1 SMA ini. Kami yang sekelas hingga ke tingkatan kelas lebih tinggi lagi saat ini. Orang yang ku kenal dengan senyum khasnya yang tulus. Seseorang yang menyapaku pertama kali disaat teman-teman lain belum mengenalku. Pribadi yang menyenangkan yang selalu bisa membuat nyaman diradius jangkauannya. Ya, sosok tegas dan kharismatik yang membuat setiap orang terkagum-kagum. Dia yang selalu ada disampingku ketika aku menangis. Dia yang senantiasa mengingatkanku akan pentingnya sholat lima waktu tepat pada waktunya. Dia yang selalu terkesan dengan wanita yang berkerudung dan begitu menghargainya. Dia seorang yang taat akan agamanya. Tapi berbeda dengan apa yang kuyakini. Tak ada yang cacat sedikitpun dari budi pekertinya.. akhlaknya.
“Marwah” panggilnya. Ku lihat dia semakin mengeratkan pegangannya di helm yang sedang dia bawa. “Lihat aku” ujarnya. Aku yang sedari tadi hanya menundukkan pandanganku, berusaha menatapnya, walau tidak secara langsung. Aku yang hanya setinggi telinganya memaksaku untuk mendongakkan kepalaku lebih dalam.
“Bukankah perbedaan itu yang bisa membuat kita satu” ujarnya tiba-tiba.
Aku memucat. Aku mengerti arah pembicaraan ini. Jangan-jangan…
“Aku merhatiin kamu sejak setahun lalu mar, aku baru beraniin diri buat dekatin kamu baru akhir-akhir ini…..” dia terdiam. “Aku cuma… aku ingin bilang, kalau aku selama ini sayang sama kamu mar, bukan suka.. tapi SAYANG” dia mencoba menekankan kata terakhir pada kalimatnya. Aku masih terdiam. “Aku gak tahu kenapa aku bisa bilang gitu ke kamu, aku jujur… cuma sama kamu aku bisa jadi diri sendiri. Kamu gadis sederhana yang apa adanya mar, itu yang terlihat istimewa di mataku. Ah…tidak hanya itu, banyak sekali hal yang membuatmu terlihat istimewa buat aku. Aku menghargai agamamu mar…..” dia lirihkan suaranya lalu terdiam ketika ada dua orang siswa berjalan kami. Setelah koridor kembali sepi, ku dengar dia berbicara kembali “Aku cuma ingin kita bisa lebih serius lagi… maksudku kita bisa menjalin hubungan yang bukan hanya sekedar teman…..”  suaranya tercekat di kata terakhir. Kulihat wajahnya telah merah padam.
“Sam…” ujarku akhirnya. Aku sejenak terdiam untuk mengatur ritme jantungku yang tidak karuan. “Te..ter..terimakasih buat semuanya selama ini, tapi….”
“Kamu gak perlu jawab sekarang mar, aku bakal nunggu sampai kamu benar-benar siap buat nerima aku” Samuel mencoba memotong ucapanku. Aku menggeleng kepala kuat-kuat. Sebagaimanapun aku mengaguminya, hal seperti ini tidak boleh terjadi.
 Lakum dinukum wa liyadin” ujarku kemudian “Bagimu agamamu, bagiku agamaku” lanjutku mengutip salah satu ayat di surah Al Kafirun itu. Ku lihat ekspresinya, dia terhenyak.
Aku menarik nafas panjang. “kamu tahu aku gak bisa. Kita beda sam…jujur, aku juga terkesan sama kamu selama ini. Tapi semuanya tidak harus berakhir seperti apa yang kita inginkan….. “ Aku sengaja menggantungkan ucapanku. Memberikan waktu untuk kami mengerti sejenak. Dia menghela nafas, ada sedikit kelegaan terdengar. “Bagaimana mungkin aku mencintai seseorang yang jelas-jelas ‘berbeda’” ujarnya sembari sedikit tertawa. Entah apa maksud tawanya itu, tapi terlihat sorot kesedihan dari mata sipitnya.
 “Kamu selalu jadi teman terbaikku sam” Ujarku akhirnya. “Kita tetap baik-baik saja meskipun hanya berteman. Terkadang ada batasan-batasan yang tak boleh kita langgar. Kamu tetap akan menjadi teman terbaikku sampai kapanpun ” Ujarku sembari tersenyum walau terkesan kaku. Dia mengangguk. “Paling tidak, aku sudah lega menyampaikan hal ini ke kamu mar” ujarnya tersenyum. Aku ikut mengangguk tersenyum.
“Alhamdulillah.. masih bisa menahan godaan ini” Batinku terharu.
Kami terdiam bersama-sama. Ku lihat wajahnya sudah kembali normal, tidak semerah tadi.
“Tapi, apa aku masih boleh menungguimu sholat ashar sepulang sekolah seperti biasa mar? kali ini tanpa niatan apa-apa” Senyum lebar khas Samuel muncul kembali. Ya, ini dia yang dari dulu ku kenal, akhirnya dia kembali netral lagi.
Aku akhirnya ikut tersenyum lebar juga. “Iya, tapi awas kalau sampai aku dengar kata-kata macam itu tadi lagi! Kita putussss” ujarku menggoda. Dia tergelak tertawa “Kamu gak boleh putus pertemanan sama aku mar! bisa nyesel nanti” Ujarnya sambil menyikut lenganku. Kami bersikap biasa kembali dalam waktu sesingkat itu. Ya beginilah kami. Tidak berlarut-larut.
Kami berjalan bersama-sama meninggalkan koridor kelas itu. Masih terdengar gelak tawa samuel membahana di setiap lorong-lorong kelas yang kami lewati. Menertawakan ucapannya kepadaku yang keluar begitu saja tadi.
Kami kembali mencoba senormal biasanya -walau mungkin tidak sepenuhnya-
Yaaa, kita memang tak bisa menembus aturan yang telah ada. Biarlah tetap berjalan sebagaimana mestinya. 

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku”
[Q.S Al kafirun : 6]

***

Tulisan pada waktu ketika jam kosong di kelas [XI IPA 1]
03 Oktober 2011

2 komentar:

  1. gina kereeeeeen >.< tulisan kamu bagus.. Kamu bisa lo jadi seorang novelis :D coba deh terbitin tulisan kmu di majalah atau koran :')

    BalasHapus
  2. Subhanallah.. bagus banget tulisannya.. hm,, ada yg janggal aku ngrasa ini ide nulisnya dari pengalaman pribadi ini #uhuk uhuk :p

    BalasHapus